Emang Belum Rejekinya…

“Pernah suatu kali saya membelikan susu sapi murni untuk anak-anak.” Ceritapun bermula.
“Lalu susu itu diminum berdua oleh si kakak dan adik.. Sementara susu yang satunya saya taruh di motor. Harapannya sih agar bisa diminum nanti..”
“Waktu berlalu dan saya sama sekali lupa kalau menaruh susu sapi murni di motor. Tahunya saat si nomor dua merasakan celananya basah saat naik motor..”
“Lha saya bingung, basah kenapa.. hujan tidak, habis dicuci juga enggak…Lalu waktu berhenti saya tengok, oalah astaghfirullah.. ternyata susu yang tadi dicantelkan di motor pecah dan mengenai si nomor dua”

Andai saja susu tadi diminum sehabis beliĀ  mungkin tidak ada ceritanya susu itu pecah dan malah tidak dapat dinikmati. Saya bilang memang belum rejekinya. Lalu saya mencoba membuat sebuah kesimpulan bahwa rejeki itu adalah apa yang bisa kita nikmati.

…rejeki itu adalah apa yang bisa kita nikmati…

Sementara apa yang tidak bisa kita nikmati berarti belum menjadi rejeki. Boleh jadi kita memiliki sesuatu tetapi jika kita tidak dapat menikmatinya maka belum bisa dikatakan rejeki. Ya itu tadi contohnya. Beberapa waktu saya memiliki susu untuk si nomor dua, eh tiba-tiba saja susu itu pecah dan tumpah sehingga tak satupun yang bisa menikmati. Baik dari sisi saya yang membelikan atau dari sisi si nomor dua yang dibelikan, dua-duanya belum menjadi rejeki. Yang jadi rejeki mungkin si penjualnya.. Mungkin saja lho ya..

Dan yang pasti rejeki itu tak pernah tertukar. Kalau memang sudah rejekinya insya Allah bisa dinikmati. Tapi kalau memang belum rejeki maka tak pernah sekalipun kita bisa menikmatinya.

Tetap khusnudzon kepada Allah bahwa kita akan diberi rejeki sesuai apa yang kita butuhkan.

Tulisan ini dipublikasikan di Selintas Lalu dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *