Enam Tahun Sudah Usiamu Nak….

Masih lekat dalam ingat. Kala itu sore hari Jumat. Saat matahari bersiap pulang ke peraduan. Sementara dirimu siap menatap kehidupan. Semenjak pagi bundamu telah bersiap diri. Bersiap untuk sesuatu yang ayah rasa butuh keteguhan hati. Pengalaman pertama melahirkan yang sangat spesial. Ya.. Keputusan dokter untuk melakukan operasi sesar tentu saja bukan pilihan ayah dan bunda. Memang ada alasan medis untuk itu. Tapi bagaimanapun hal itu harus ayah bunda tempuh. Berat pasti, apalagi bagi bundamu.

Ada raut kecemasan dalam wajah bundamu. Dan ayah hanya mampu menguatkan semampu ayah. Meski ayah yakin hal itu tak cukup membantu. Jika pada akhirnya, alhamdulillah, operasi sesar berjalan lancar itu adalah berkat keteguhan dan perjuangan bundamu. Doa-doa yang selama ini ayah bunda panjatkan mendapat jawaban Allah. Dan ayah bunda yakin pasti inilah jalan terbaik. Cara yang spesial untuk menyambutmu menatap dunia.

Menjelang maghrib, 12 Oktober 2012 saat yang ditentukan itupun tiba. Bundamu sudah berganti baju operasi. Lalu disuruh berbaring di tempat tidur beroda siap menuju ruang operasi. Dingin. Dalam genggam erat tangan, ayah mengantar bundamu menuju ruang operasi, bunda didorong di atas tempat tidur. Ya inilah saatnya perjuangan ayah dan bunda bermula. Sampai akhirnya tim medis (tim operasi mengambil alih) menerima bunda untuk proses operasi. Dan pada detik inilah entah perawat atau dokter atau entah siapa mengatakan ” Mohon maaf tidak diperbolehkan masuk, silakan menunggu di luar”

Saat itu ayah merasa kosong. Keinginan ayah untuk mendampingi bundamu tak terkabul. Ayah jabat makin erat bundamu untuk menguatkannya. Memberi dorongan agar kuat melalui proses ini. Belum usai kata-kata itu terucap, ayah harus melepas genggaman tangan. Bundamu dibawa ke ruang operasi.

Detik-detik waktu laksana berhari-hari. Ayah hanya bisa membantu lewat doa. Tetes airmata dalam doa melarut begitu saja. Memikirkan bagaimana kalian menjalani proses ini. Tidak lagi hanya bundamu tetapi juga engkau. Sesaat sebelum adzan berkumandang, kudengar tangismu dari dalam. Ya Allah.. Alhamdulillah.. Ku yakin bahwa engkau telah lahir dengan selamat. Bahagia. Karena detik itu pula aku menjadi seorang ayah. Resmi. Sah. Setidaknya akan ada yang memanggil ayah. Namun bahagia itu belum sempurna. Karena ayah belum tahu bagaimana kondisi bundamu.

Dalam penantian itu, ayah dipanggil masuk oleh salah satu tim medis. Untuk pertama kalinya ayah melihat wajahmu. Mungil. Lucu. Imut. Lalu ayah kumandangkan adzan dan iqomat di telingamu. Dan itulah pertemuan pertama ayah denganmu sebelum tim medis membawamu pergi. Lalu bagaimana dengan bundamu?

Beberapa waktu kemudian bundamu keluar dari ruang operasi. Ayah sambut dengan genggam tangan dan senyum. Dingin sekali terasa bundamu. Sampai harus ayah selimuti berlapis-lapis. ” Bagaimana Aisha?” tanya bundamu. “Alhamdulillah baik, tadi sudah ayah adzan-i”. Bundamu pun ingin sekali bertemu, tetapi ayah katakan masih dibawa tim medis. Ayah mencoba menenangkan bundamu. Setidaknya pulihkan dahulu kondisi tubuh setelah lelah menjalani proses operasi.

Kemudian setelah beberapa waktu, bundamu dipindah ke kamar yang lebih luas, satu kamar satu pasien. Dan kembali bundamu menanyakan keadaanmu. Ayah jawab lagi bahwa kamu masih dibawa tim medis. Malam semakin larut dan bundamu selalu menanyakan bagaimana kabarmu. Ayah lihat raut kekhawatiran bundamu. Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa belum juga diantar ke kamar bunda?

Untuk memastikan, ayah pun menengok ke ruang inkubasi. Kamu masih di tabung itu. Ayah bertanya kepada perawat. ” Anak saya baik-baik saja kan?”… “Iya tidak apa-apa, hanya tadi agak kebiruan sehingga perlu disinari…” Lalu ayahpun memberi jawaban seperti itu kepada bundamu. Tetapi justru itu semakin membuat bundamu gusar. Kalau tidak apa-apa kenapa tidak segera disandingkan.

Ayah pun tak tahu harus bagaimana menjelaskan. Akhirnya ayah sering-sering menengokmu setiap kali bundamu menanyakanmu. Ayah tak tahu lagi bagaimana memberi jawaban, meski ayah tahu kamu baik-baik saja. Sampai akhirnya perawat datang dan menjelaskan kondisimu yang masih harus disinari. Jawaban perawat itu justru semakin menambah galau. Semalaman bundamu tak bisa tidur nyenyak memikirkanmu. Setiap kali terbangun menanyakan kondisimu. Ayahpun selalu memastikan kondisimu meski hanya bisa melihat dari luar ruang inkubasi. Waktu terasa begitu lama. Waktu yang dijanjikan untuk bisa bertemu esok hari, terasa bertahun-tahun.

Pagipun datang dan belum ada tanda-tanda engkau datang. Ayahpun sampai meminta untuk bisa segera dipertemukan. Dan akhirnya sekitar jam 8 pagi engkau diantarkan menemui bundamu. Momen saat itu adalah momen yang paling mengharukan bagi ayah. Saat itulah bundamu terlihat begitu bahagia melihatmu. Dan setelah bersanding denganmu bundamu tertidur begitu pulas. Penantian yang terasa sangat panjang tertunaikan sudah.

.
.
.
.
.

Dan kini enam tahun berlalu sejak engkau hadir di dunia ini. Tepat hari jumat. Ayah dan bunda selalu mendoakan semoga engkau menjadi anak yang sholihah. Mungkin tak ada yang perlu dirayakan di hari ini. Tetapi semoga ini menjadi sebuah kenangan yang akan selalu diingat. Dan semoga engkau selalu tahu bahwa ayah dan bunda menyayangimu..

Tulisan ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *